Halo Bunda Ayah semua, perkenalkan aku Bunda Z dari Jakarta, pada tulisan ini aku ingin sharing pengalaman konsul terkait perkembangan wicara anak laki-lakiku usia 19 bulan. Sebelumnya, aku dan ayahnya sudah mulai menemukan tanda-tanda keterlambatan bicara karena pada usia 16 bulan, belum ada 1 kata pun yang keluar, namun saat itu aku dan ayahnya masih sabar menunggu karena melihat dari perkembangan lainnya masih sesuai usia.
Kami pikir saat itu, mungkin hanya kurang stimulasi. Skrining mandiri pun kami lakukan berdasarkan checklist perkembangan anak yang dipaparkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dan kami menemukan beberapa yang sudah terchecklist seperti
- Bisa menunjuk
- Mengerti perintah
- Menengok ketika dipanggil namanya
- Sudah melewati fase coo-ing dan babbling
Sehingga aku masih menunggu dengan terus menstimulasinya di rumah. Pada usia 19 bulan ini, kami pun ingin mendapatkan konfirmasi dari professional sehingga tidak terlambat melakukan intervensi jika diperlukan.
Akhirnya kami datang ke salah satu klinik tumbuh kembang yang sudah banyak direkomendasikan di daerah Jakarta yaitu Rainbow Catstle, di sana kami bertemu dengan dokter spesialis rehabilitasi medik, yaitu Dr. Adilla Hikma, SpKFR untuk skrining perkembangan bicara anak kami.
Konsultasi
Sesi Pertama
Saat konsul, terbagi 3 sesi, yang pertama adalah sesi pemberian informasi kami dari para orang tua terkait perkembangan anak secara umum: dari mulai masa kehamilan seperti apa, lahir prematur atau tidak, jalan lahir normal atau Caesar, perkembangan dari 0-19 bulan ini seperti apa, tengkurap, merangkak, dan berjalan di usia berapa, bagaimana pola makan dan tidur sehari-hari, bagaimana interaksi dengan orang tua sehari-hari, apa saja mainan yang dimainkan setiap hari, rutinitas dari bangun sampai tidur, riwayat kesehatan, hingga pertanyaan siapakah pengasuh Utama di rumah.
Wow, ternyata untuk perkembangan bicara saja, semua poin perkembangan anak pun saling berpengaruh, ya.
Sesi Kedua
Sesi kedua adalah sesi observasi anak. Anak kami dibiarkan bermain sendiri, lalu dokter Adilla mencatat setiap respon anak kami terhadap apa yang ada di depannya, sesekali diberikan mainan untuk menarik perhatian dan akhirnya kami diminta untuk memperlihatkan bagaimana cara mengobrol kami kepada anak kami. Kami pun diarahkan untuk bermain Bersama anak kami, sehingga dokter Adilla dapat mengevaluasi prosesnya.
Sesi Ketiga
Sesi ketiga adalah sesi yang paling kami tunggu-tunggu, yaitu sesi penjelasan dari dokter Adilla terkait: apa akar masalah pada keterlambatan bicara anak kami? Aku akan sharing beberapa poin penting yang semoga bisa membantu Ayah Bunda yang memiliki anak dengan kondisi yang sama di rumah.
Rangkuman hasil observasi dimulai dari pemaparan apakah ada redflags perkembangan anak seperti:
- Anak tidak nengok ketika dipanggil
- Anak tidak melakukan kontak mata kepada orang sekitar
- Ada keterlambatan perkembangan lainnya (motoric kasar, motoric halus, atau oromotor)
- Hanya tertarik pada benda yang berputar, sering mengulang gerakan tertentu
- Tidak paham perintah
- Tidak bisa menunjuk benda
- Menarik tangan orang tua/pengasuh jika ingin sesuatu di samping berusaha mengeluarkan kata-kata
Jika ada redflags di atas, harus ada skrining lebih lanjut terkait kemungkinan autisme, gangguan pendengaran, atau gangguan otot rahang mulut (oromotor)
Alhamdulillah anak kami tidak menunjukkan redflags tersebut, sehingga diagnosis dokter Adilla terhadap keterlambatan bicara anak kami hanya: kurang stimulasi dan perbaiki cara komunikasi serta cara bermain dengan anak. Apa saja evaluasinyaa?
Kurang Stimulasi
1. Perbanyak Waktu Membacakan Buku Bersama Anak
perhatikan jenis buku yang dibaca, mulai dari board book bayi berhahasa ibu (missal Bahasa utamanya Bahasa Indonesia), yang isinya mengharuskan anak untuk merespon minimal dengan 1 kata. Misal buku-buku bergambar hewan dan suara hewan.
2. Hindari Stimulasi Angka dan Huruf Sebelum Anak Berhasil “Beo” Kata
angka dan huruf adalah hal-hal yang sulit dicerna dan membuat anak kurang percaya diri mengeluarkan kata, dalam otaknya angka dan huruf adalah sesuatu yang abstrak
3. Stimulasi Oromotor Rutin
Otot-otot oromotor adalah alat penting untuk anak berbicara, maka anak harus terbiasa menggerakan otot-otot tersebut. Cara melatih oromotor antata lain: sikat gigi dan sikat lidah anak secara rutin untuk melatih otot-otot rahang, mulut dan lidah bergerak, meniup pluit, dan menyedot air dengan sedotan.
Sebenarnya, dengan melatih anak makan sesuai tekstur usianya, secara tidak langsung juga memberikan stimulasi berbicara kepada anak. Jadi, varisasikan juga finger foods anak ya, Buibu Pakbapak!
Perbaiki Cara Komunikasi
“Orang tua jangan asal cerewet untuk berbicara dengan anak” – Dr Dilla, rasanya tertampar dengan kalimat itu. Aku dan suami awalnya merasa bahwa kami sudah banyak mengajak ngobrol anak kami, sampai berbusa-busa, tapi ternyata modalnya tidak asal ceweret :”) Ada hal-hal yang harus diperhatikan saat mengajak anak berbicara:
1. Kontak Mata 3 Arah
Kontak mata 3 arah adalah antara: kata benda/sesuatu yang ingin anak ketahui, mata kita, dan mata anak. Ketika berbicara pada anak, pastikan mata anak tertuju pada mata kita, baru kita ajarkan berbicara. Jika fokus mata anak masih pada hal lain, tjangan harap anak akan mengulangi apa yang kita bicarakan.
Sebagai contoh… anak sedang melihat bola dan tertarik dengan bola (kontak mata benda terpenuhi✅), lalu kita ingin ajarkan ia mengucap “booolaa”, unggu sampai mata dia melihat mata kita, dan kita katakana “boolaa” saat ia melihat mata kita (kontak mata kita, kontak mata anak terpenuhi ✅), konsisten ajarkan seperti itu.
2. Sabar Menunggu Respon Anak, Baru Lanjutkan Pembicaraan
“Small progress is alson an achievement”. Apapun bunyi yang keluar dari mulut anak adalah hal yang progresif. Maka kita harus tunggu sampai anak merespon. Sebagai contoh kata “bola” tadi, jangan sampai kita memotong fokus anak yang sedang mencerna kata “bola” dengan kalimat lain yang Panjang, TUNGGU anak merespon, bahkan jika ia merespon “boo…” saja, atau “yaaa…” saja adalah progress.
Jangan berharap besar juga pada kesempatan latihan pertama anak langsung mengucap “bola” dengan lantang 😀 Tapi perhatikan deh, anak-anak dengan perkembangan normal tanpa sindrom tertentu, pasti akan memberikan sinyal respon, maka kita sebagai orang tua harus peka terhadapnya.
3. Apresiasi Ketika Anak Berhasil
Ketika anak berhasil merespon dengan mengeluarkan bunyi, misal dia menyebut kata bola dengan sebutan “boo..’, atau bahkan hanya “aaaa…”, maka berilah apresiasi sebagai bentuk “kita mengerti maksud kamu, loh, kamu mau mengucap bola, ya”. Dengan konsisten seperti itu, kepercayaan diri anak untuk mengeluarkan bunyi dan berbicara akan tumbuh.