Atasi Pup Ambyar pada Bayi Lewat Food Jurnal, Download Disini Templatenya!
in Tips Bunda on February 3, 2025Hai Ibu-ibu semua, aku mau cerita pengalamanku mencari penyebab anak BB seret dan akhirnya tinggi badan pun ikut stuck, tapi waktu cek darah, profil zat besi aman, ga ada indikasi TBC atau silent diseases apapun…
Jadi, udah sekitar 2 tahun lebih aku “jajan dokter anak”, dari mulai dokter anak subspesialis nutrisi dan penyakit metabolik, dokter anak subspesialis endokrin, gaak juga ketemu penyebabnya kenapa. Anak makan lahap, terlihat sehat-sehat aja, tapi teteep aja naik berat badan per bulan gak sesuai target, sampai ganti garis pertumbuhan… hiks…
Akhirnya, ini lucky banget siiih, suatu hari aku ketemu sama akun instagramnya Dokter Moiuna (IG: @moiuna.dr), beliau dokter umum yang mengambil fellowship gelar FINEM (Fellowship in Nutrition & Environmental Med) dan… nemu konten bahwa anak bisa aja gak bertumbuh karena indikasi alergi, tidak optimalnya penyerapan makanan, intoleransi, dan sensitivitas makanan.
Aku langsung baca semua highlight, postingan-postingan beliau yang sangat daging banget, dan menemukan beberapa ciri anak alergi itu ada di anak aku ini.
Misalnya:
- Pup tidak rutin setiap hari
- Pup ambyar pada bayi (terlalu encer)
- Tekstur pup anak tidak berada di bristol stool level 3-4 (misal terlalu keras atau sebaliknya malah diare)
- Ruam dan muncul gatal-gatal jika mengkonsumsi beberapa jenis bahan makanan
- Mudah batuk pilek tanpa sebab dan tanpa demam
- Kulit anak cenderung kering
Semua ciri-ciri yang sering aku abaikan, tapi ternyata itu sign penting buat mengetahui ada yang gak optimal dengan pemenuhan nutrisinya.
Akhirnya aku beranikan diri untuk konsul online ke Dokter Una, dan beliau ngajarin satu hal penting: Food journaling!
Apa itu food journal?
Jadi setiap kita ngasih makan anak, kita bikin jurnal reaksi yang tubuh anak itu, benar-benar sedetail itu sampai respon gatal, ruam, sendawa, bahkan buang angin pun dicatat.
Kurang lebih isi kolomnya gini:
- nama makanan
- reaksi setelah makan
- reaksi 1 jam setelah makan
- bristol stool pup
Hal ini membantu para orang tua agar mengetahui derajat suatu makanan itu aman atau enggak di tubuh anak: kalau tidak ada respon berarti (misal tidak ruam, gatal, bikin diare, bikin buang angin terus, bikin sendawa terus, atau bikin sesak nafas dll), artinya aman dikonsumsi…
dan jika ternyata ada respon dari tubuh anak: artinya ada indikasi tertentu: bisa alergi, intoleransi, atau sensitivitas terhadap makanan.
Lebih jelas tentang bedanya alergi, intoleransi sama sensitivitas, bisa dicek di postingan ini ya:
Nah terus kenapa harus food journaling? Ribet bangettt kan perhatiin detail respon anak makan.
Sebenarnya ini hanya alternatif cara untuk mengetahui apakah anak punya alergi atau enggak. Bisa kok dengan tes alergi di laboratorium, cuman harus mempertimbangkan biaya yang lebih mahal dan membujuk anaknya itu yang susah.
Naah makanya ibu-ibu yang mau coba di rumah untuk food journaling, bisa banget, awal-awal terasa ribet, tapi kalau udah biasa, kita bisa lebih peka sama makanan-makanan apa aja yang masuk ke tubuh anak kita, kita bisa lebih selektif dan akhirnya anak lebih bisa dicegah dari berbagai penyakit loh!
Gara-gara food journaling, anak-anakku bisa bebas batuk pilek hampir 1 tahun lebih 🥹 Di musim batuk pilek pun alhamdulillah mereka aman, karena kita benar-benar paham banget makanan apa yang bisa mencetus pilek, batuk, dan sensitivitas pencernaan, sehingga bisa hindari dan cari pengganti yang aman.
Dan bonusnya; finally BB naik, TB naik lagi.
Anak-anak yang sedang alergi juga akan berhenti tumbuh sama seperti anak sedang kena infeksi, karena setiap protein yang dikonsumsi justru terpakai untuk “respon” alerginya, proteinnya gak dipake buat tumbuh.. aku baru sadar ngasih anak tinggi protein terus tapi malah loss 🥲 sayang banget kan…
Pengalaman temanku juga, dia bilang anaknya usia 2 tahun, dalam sebulan pastii ada batuk pilek, tapi bingung karena apa dan gak ada demam sama sekali. Akhirnya aku ajak untuk food journaling, dan akhirnya ketahuan kalau anaknya alergi ikan… selama ini walau batuk pilek terus dikasih ikan, padahal itu pencetusnya :”) Setelah eliminasi ikan, alhamdulillah frekuensi batuk pilek berkurang drastis..
Jadi dari mana memulai food journaling dan eliminasi makanan? Beberapa tips yang bisa dilakukan:
#1 Mulai dari mengamati protein yang dimakan
- protein adalah zat pencetus alergi utama, sehingga kalau seseorang mengalami alergi, yang dicurigai pasti protein
- Satu per satu di uji coba:
seafood, kacang-kacangan, susu sapi, telur, organ meat, ayam, daging, jika ada reaksi setelah makan, catat di food journal - Jangan double protein: hindari 2 jenis protein sekali makan agar tau jika terdapat reaksi tubuh anak itu karena protein yang mana
#2 Setelah mengetahui ada reaksi alergi dari protein yang dimakan
- kelompok seafood dan kacang-kacangan: hindari selama mungkin, karena menurut penelitian, kelompok alergi ini bisa bertahan hingga dewasa
- Telur dan susu sapi: eliminasi sementara, dicoba lagi setelah 3 minggu secara bertahap (dari porsi sedikit dahulu, cek lagi reaksi tubuh): menurut penelitian seiring dengan bertambah usia, potensi alergi kedua kelompok ini akan menurun.
- organ meat: daging bagian organ seperti ati, otak, paru, lidah, juga diperhatikan respon tubuh setelah makan, makanan-makanan ini memang sangat bernutrisi untuk anak, namun pastikan anak sudah sanggup mencernanya
- Ayam dan daging: biasanya dua kelompok ini adalah yang paling aman untuk dikonsumsi dan jarang sekali menimbulkan reaksi alergi (kecuali kulit ayam harus didahulukan cek reaksinya ya – bisa dimulai dari makan ayamnya saja tanpa kulit)
#3 Selagi menjalankan food journaling dan eliminasi jenis makanan tertentu, bantu kesehatan pencernaan dengan makanan real food. Cek “Gut healing protocol” untuk lebih lanjut tentang ini, intinya:
- perbanyak makan kelompok labu-labuan
- konsumsi meat stock (kaldu ayam/sapi)
- konsumsi probiotik
- konsumsi vitamin D, minyak ikan
- konsumsi madu pahit jika perlu untuk memaksimalkan enzim pencernaan
- Hindari makanan dan minuman kemasan dan UPF
#4 Jangan lupa berdoa dan ajak anak berbahagia!
Selain dibantu nutrisi, food journaling yang ketat, anak butuh hormon untuk tumbuh…pastikan anak-anak mendapat paparan sinar matahari yang cukup di pagi hari, memiliki aktivitas fisik yang cukup, tidur yang cukup, bermain yang cukup, serta berikan aktivitas-aktivitas yang bisa membuat anak berkeringat. Mood anak yang berbahagia juga membantu anak bertumbuh karena optimalnya sekresi hormon-hormon tubuhnya.
Semoga sharing di atas bisa membantu perjalanan tumbuh kembang Ananda ya Ibuibu!
Kalau Ibu-ibu perlu template food journal untuk memudahkan pemantauan anak dengan indikasi alergi, bisa download template food journal di bawah ini.
Template food journal full: [Download PDF]